http://PJSBABEL.COM (BATA) – Organisasi yang besar bukan sekadar diukur dari banyaknya anggota atau megahnya nama, melainkan dari kemampuannya membangun kemandirian, menjaga idealisme, melahirkan kader berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi anggotanya.
Pesan penting tersebut disampaikan Alias Wello, Sekretaris Jenderal Koalisi Pemerintah Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK), saat menjadi pembicara dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Pro Jurnalismedia Siber (PJS) di Asrama Haji Batam, Kepulauan Riau, 4–5 November 2026.

Caption : Alias Wello Bupati Lingga periode 2016 – 2021 (baju putih) narasumber Rakernas PJS III, Batam 4-5 November 2026
Tokoh yang akrab disapa Awe ini hadir membawa pengalaman panjang dari tiga dunia berbeda, yakni jurnalistik, pemerintahan, dan usaha. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk berbagi pandangan sekaligus memberikan motivasi kepada keluarga besar PJS dalam membangun organisasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Bukan sekadar memberikan teori, Awe berbicara berdasarkan perjalanan dan pengalaman yang pernah dilaluinya. Ia mengaku pernah berkecimpung di dunia pers, termasuk media cetak, sebelum kemudian terjun ke pemerintahan dan dunia usaha.
Dari pengalaman lintas bidang tersebut, Awe mengingatkan bahwa membangun organisasi profesi tidak cukup hanya mengandalkan semangat kebersamaan. Diperlukan sistem yang terarah, kepemimpinan yang visioner, serta komitmen seluruh pengurus untuk memastikan organisasi terus tumbuh dan berkembang.
Menurutnya, salah satu ukuran keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuannya menyiapkan generasi penerus.
“Pemimpin yang hebat bukan hanya mampu memimpin, tetapi juga mampu melahirkan kader-kader baru yang nantinya bisa melanjutkan perjuangan organisasi,” menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikannya.
Karena itu, Awe mendorong PJS agar menjadikan pengkaderan sebagai agenda strategis organisasi. Proses tersebut harus dirancang secara terstruktur, berkesinambungan, dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
Baginya, organisasi yang tidak menyiapkan kader penerus akan kesulitan menjaga kesinambungan perjuangan. Sebaliknya, organisasi yang mampu melahirkan pemimpin baru akan memiliki fondasi kuat untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.
Tiga Fondasi Organisasi yang Tidak Boleh Ditawar
Dalam pemaparannya, Awe juga menekankan tiga fondasi utama yang harus menjadi pegangan PJS, yaitu kemandirian, idealisme, dan profesionalisme.
Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun organisasi yang sehat dan bermartabat.
Kemandirian diperlukan agar organisasi tidak terus-menerus bergantung kepada pihak lain. Idealisme harus dijaga sebagai kompas dalam mempertahankan marwah, integritas, dan independensi. Sementara profesionalisme menjadi landasan dalam menjalankan tugas, tanggung jawab, serta memperjuangkan kepentingan organisasi.
Awe memahami bahwa perjalanan insan pers bukanlah sesuatu yang mudah. Wartawan kerap berhadapan dengan berbagai tekanan, mulai dari persoalan intelektual, psikologis, hingga tantangan fisik ketika menjalankan tugas jurnalistik.
Oleh sebab itu, ia mengingatkan pentingnya membangun solidaritas dan memperkuat kapasitas anggota. Organisasi harus hadir bukan hanya ketika menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga mampu menjadi tempat berlindung, bertukar pikiran, dan memberikan dukungan bagi setiap anggotanya.
Dorong Koperasi, PJS Harus Punya Kekuatan Ekonomi
Salah satu gagasan menarik yang disampaikan Awe adalah pentingnya PJS membangun koperasi sebagai instrumen penguatan ekonomi organisasi.
Menurutnya, koperasi dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong kemandirian sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan anggota.
Dengan adanya koperasi, organisasi diharapkan tidak hanya menjadi tempat berhimpun dan memperjuangkan kepentingan profesi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung oleh anggotanya.
“Organisasi harus mampu membangun kemandiriannya sendiri. Jangan hanya berpikir bagaimana organisasi bisa berjalan, tetapi juga bagaimana organisasi bisa memberikan manfaat dan menjadi rumah bagi seluruh anggotanya,” demikian pesan Awe.
Gagasan tersebut menjadi refleksi penting bagi PJS untuk mulai memikirkan model penguatan ekonomi organisasi yang produktif, terukur, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Pers Harus Hadir Mengawal Ketahanan Pangan
Tidak hanya berbicara tentang organisasi, Awe turut menyoroti isu ketahanan pangan yang menjadi salah satu perhatian dalam Rakernas III PJS.
Menurutnya, pangan bukan semata-mata persoalan produksi dan distribusi, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat serta kekuatan suatu bangsa.
Dalam konteks tersebut, insan pers memiliki peran strategis untuk mengawal berbagai kebijakan dan program ketahanan pangan melalui pemberitaan yang informatif, kritis, objektif, dan berimbang.
Pers harus mampu menjadi jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial agar setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi kepentingan publik.
Awe juga mengibaratkan organisasi sebagai sebuah rumah besar. Rumah yang baik bukan hanya menyediakan tempat untuk berkumpul, tetapi juga memberikan ruang bagi setiap penghuninya untuk berkembang, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan karya.
Filosofi tersebut menjadi pesan bahwa PJS harus terus memperkuat kebersamaan, membuka ruang partisipasi, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun organisasi.
Sebagaimana diketahui, Rakernas III PJS secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Kegiatan nasional yang berlangsung pada 4–5 November 2026 tersebut diikuti pengurus dan anggota PJS dari berbagai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Indonesia.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, di antaranya Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau Misni, Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Bupati Karimun Ing. H. Iskandarsyah, Ketua Umum KOPEK Prof. Nelson Pomalingo, Deputi Pelayanan Umum BP Batam Ariastuti Sirait, perwakilan Forkopimda Kepulauan Riau, serta sejumlah undangan lainnya.
Kehadiran Alias Wello memberikan warna tersendiri dalam forum nasional tersebut. Pengalamannya sebagai insan pers, Bupati Lingga periode 2016–2021, sekaligus pelaku usaha menghadirkan perspektif luas tentang pentingnya kepemimpinan, kemandirian, dan tata kelola organisasi.
Melalui berbagai pandangan yang disampaikannya, Awe mengajak seluruh keluarga besar PJS untuk tidak cepat berpuas diri. Organisasi harus terus berbenah, memperkuat pengkaderan, menjaga idealisme, meningkatkan kompetensi, serta membangun kekuatan ekonomi secara mandiri.
Sebab, organisasi yang benar-benar kuat bukan hanya organisasi yang besar namanya, tetapi organisasi yang mampu melahirkan pemimpin, menjaga nilai perjuangan, menyejahterakan anggotanya, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
*Pesan Awe menjadi pengingat bahwa masa depan PJS tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh seberapa kuat sistem dan generasi penerus yang dipersiapkan untuk hari esok.* (PJS BABEL)












Leave a Reply