PJSBABEL.COM

PRO JURNALISMEDIA SIBER BANGKA BELITUNG

Dr. Ir. Agus Puji Prasetyo: Diskusi Publik PLTN Babel Buka Fakta Energi Nasional yang Tertinggal

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Diskursus tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat, bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai respons atas kondisi riil energi nasional yang tertinggal. Minggu (8/2/2026)

Diskusi Publik PLTN Babel: Dr. Ir. Agus Puji Prasetyo Bongkar Krisis Pertumbuhan Energi Nasional

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Diskursus tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat, bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai respons atas kondisi riil energi nasional yang tertinggal. Minggu (8/2/2026)

Hal ini mengemuka dalam Diskusi Publik “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung; Diskusi Data dan Fakta”, yang menghadirkan Dr. Ir. Agus Puji Prasetyo, M.Eng., IPU, ASEAN Eng, APEC Eng, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2021–2025 sekaligus Chairman Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development, PLN Institute of Technology.

Dalam paparannya bertajuk “Kesiapan Sumber Daya Manusia dalam Program Pembangunan, Pengoperasian, dan Pemanfaatan PLTN”,  Agus menyajikan potret gamblang persoalan energi Indonesia.

Ia menyebut, pada tahun 2024 Indonesia hanya berada di peringkat ke-19 konsumsi energi per kapita dunia, sebuah indikator bahwa pemanfaatan energi belum mampu mendorong pertumbuhan industri dan kesejahteraan masyarakat secara optimal.

Posisi ini mencerminkan bahwa sektor industri kita belum tumbuh maksimal, sementara rasio elektrifikasi juga belum sepenuhnya menjangkau seluruh rakyat,” ujar Agus.

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Diskursus tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat, bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai respons atas kondisi riil energi nasional yang tertinggal. Minggu (8/2/2026)

Caption : Narasi& Moderator foto bersama Dewan Pakar METI usai menerima piagam penghargaan dari panitia pelaksana Diskusi Publik Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung Diskusi Data dan Fakta

Ia menegaskan, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak wilayah yang belum menikmati akses listrik secara layak, terutama di daerah terpencil dan kepulauan.

Keterbatasan infrastruktur serta aksesibilitas energi menjadi masalah struktural yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Lebih jauh, Agus mengkritisi rendahnya pertumbuhan pembangkit listrik nasional. Saat ini, Indonesia hanya mampu menambah kapasitas pembangkit sekitar 3–3,5 gigawatt (GW) per tahun.

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Diskursus tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat, bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai respons atas kondisi riil energi nasional yang tertinggal. Minggu (8/2/2026)

Caption : Dr Ir Agus Puji Prasetyono saat menjawab pertanyaan peserta diskusi, Sabtu (7/2/2026).

Angka ini dinilai tidak sebanding dengan laju pertumbuhan kebutuhan energi nasional.

Kalau kita ingin serius mengejar pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan kualitas hidup masyarakat, kita butuh pertumbuhan pembangkit minimal 6–7 GW per tahun, atau tiga sampai empat kali lipat dari kondisi sekarang,” tegasnya.

Masalah energi, menurut Agus, tidak berhenti pada pembangkitan. Ia menyoroti ketimpangan sistem transmisi dan distribusi listrik yang masih menjadi titik lemah nasional.

Infrastruktur jaringan yang belum memadai menyebabkan distribusi listrik tidak merata, memperlebar jurang pembangunan antarwilayah.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia juga dihadapkan pada tekanan global untuk segera melakukan transisi menuju energi bersih.

Namun Agus menilai, proses transisi energi nasional masih berjalan terseok-seok, baik dari sisi teknologi, pendanaan, maupun kesiapan sistem.

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Diskursus tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat, bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai respons atas kondisi riil energi nasional yang tertinggal. Minggu (8/2/2026)

Caption : Dr Ir Agus Puji Prasetyono saat menyampaikan paparannya di Diskusi Publik Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung Diskusi Data dan Fakta, Aston Emidary Bangka Hotel & Conference Center, Sabtu (7/2/2026)

Dalam konteks inilah, Agus menegaskan bahwa energi nuklir kini tidak bisa lagi dipinggirkan. Ia mengulas perubahan fundamental arah kebijakan nasional. Jika dalam PP Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) nuklir masih ditempatkan sebagai opsi terakhir, maka dalam PP Nomor 40 Tahun 2025 nuklir justru diposisikan sebagai instrumen strategis untuk menyeimbangkan bauran energi dan mencapai target dekarbonisasi.

Ini perubahan paradigma. Nuklir tidak lagi dilihat sebagai cadangan, tapi sebagai bagian dari solusi,” jelasnya.

Namun, Agus mengingatkan bahwa pembangunan PLTN tidak bisa dipersempit hanya pada urusan teknologi dan keselamatan reaktor.

Kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci utama. Tanpa SDM yang kompeten, bersertifikasi, dan berintegritas, PLTN justru berpotensi menjadi beban baru.

Ia mengungkapkan, dari sisi positif, pengembangan sektor nuklir berpotensi menciptakan sekitar 6.850 lapangan kerja,  mulai dari tenaga teknis, operator, insinyur, hingga sektor pendukung lainnya.

Ini peluang besar, terutama bagi daerah. Tapi peluang ini hanya akan nyata kalau kita menyiapkan SDM sejak dini melalui pendidikan, pelatihan, dan sistem sertifikasi yang ketat,” katanya.

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Diskursus tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat, bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai respons atas kondisi riil energi nasional yang tertinggal. Minggu (8/2/2026)

Caption : Dr Ir Agus Puji Prasetyono narasumber Diskusi Publik Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung Diskusi Data dan Fakta, Aston Emidary Bangka Hotel Conference Center Pangkalpinang, Sabtu (7/2/2026)

Diskusi publik ini menjadi penting bukan sekadar untuk membangun dukungan, tetapi untuk **meluruskan narasi, memisahkan fakta dari ketakutan**, serta menempatkan PLTN Bangka Belitung dalam kerangka kebutuhan energi nasional.

Di tengah pertumbuhan energi yang stagnan, target dekarbonisasi yang ambisius, dan keterbatasan energi fosil, pesan Agus jelas: tanpa keberanian kebijakan dan kesiapan SDM, krisis energi hanya tinggal menunggu waktu.

Bagi Bangka Belitung, diskusi ini bukan hanya tentang lokasi PLTN, tetapi tentang posisi strategis daerah dalam menjawab tantangan energi masa depan Indonesia. (KBO Babel)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *