PJSBABEL.COM

PRO JURNALISMEDIA SIBER BANGKA BELITUNG

Di Tengah Krisis Moral Remaja Babel, Masjid Kembali Diharapkan Menjadi Benteng Generasi

Pangkalpinang, pjsbabel.com — PERGANTIAN tahun di Bangka Belitung kerap diwarnai dua wajah yang kontras. Di satu sisi, jalanan ramai oleh konvoi kendaraan, pesta kembang api, dan euforia sesaat. Di sisi lain, laporan tentang tawuran remaja, konsumsi minuman keras, hingga pergaulan bebas terus menjadi cerita berulang yang meresahkan orang tua dan masyarakat.

Fenomena ini bukan sekadar isu musiman. Dalam beberapa tahun terakhir, Bangka Belitung menghadapi tantangan serius dalam pembinaan generasi muda. Masuknya budaya instan, pengaruh media sosial, serta lemahnya ruang pembinaan berbasis nilai telah memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis moral di kalangan remaja.

Di tengah kegelisahan itulah, Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Provinsi Bangka Belitung kembali menggelar kegiatan keagamaan menyambut malam Tahun Baru. Mengusung tema “Saatnya Pemimpin Bangkit dari Masjid”, kegiatan zikir dan diskusi ini menjadi ikhtiar menghadirkan masjid sebagai ruang perlindungan sekaligus pembinaan karakter bagi generasi muda, yang akan dilaksanakan pada Rabu 31 Desember 2025 berempat di Masjid Nurul Ittihad Kelurahan Air Kepala Tujuh Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang.

Ketua PW DMI Babel, H. M. Rasyid Ridho, menyebut bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi remaja di daerah ini. Menurutnya, banyak anak muda yang kehilangan arah karena minimnya pendampingan moral dan teladan di lingkungan sekitar.

“Kita tidak bisa menutup mata. Di Babel, kita menyaksikan sendiri bagaimana sebagian remaja mulai akrab dengan miras, pergaulan bebas, dan kekerasan. Ini bukan sekadar kesalahan anak, tetapi kegagalan kita bersama dalam membina mereka,” ujarnya.

Masjid, lanjut Rasyid Ridho, seharusnya menjadi benteng terakhir ketika keluarga dan lingkungan mulai melemah. Namun realitas di lapangan menunjukkan, tidak sedikit masjid yang justru sepi dari kehadiran anak muda.

“Jika masjid hanya diisi oleh orang tua, maka generasi muda akan mencari ruang lain—dan sering kali ruang itu tidak ramah bagi masa depan mereka,” tegasnya.

Krisis moral ini semakin terasa di daerah-daerah perkotaan Babel, termasuk Pangkalpinang, di mana pergeseran nilai berlangsung cepat. Orang tua sibuk bekerja, ruang publik minim pengawasan, sementara gawai dan media sosial menjadi ‘guru’ utama bagi anak-anak.

Ustadz Rusdiyanto, Ketua Panitia kegiatan, menilai bahwa pembinaan generasi muda tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan lama. Masjid harus bertransformasi menjadi ruang dialog, edukasi, dan pendampingan yang relevan dengan realitas remaja hari ini.

“Remaja Babel hidup di tengah tekanan ekonomi keluarga, krisis keteladanan, dan budaya instan. Masjid harus hadir sebagai ruang aman, tempat mereka didengar dan dibimbing, bukan dihakimi,” katanya.

Kegiatan zikir dan diskusi ini menghadirkan para tokoh yang telah lama bergelut dalam pembinaan umat, seperti Ustadz Zuhri M. Syazali, Lc., MA (Anggota DPD RI), Ustadz Ir. Fadhilah Subri, M.Eng (Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung), dan Ustadz Firman Saladin (Aktivis Dakwah).

Para pemateri tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan krisis moral yang mengancam generasi muda Babel.

Bagi para peserta—remaja masjid, mahasiswa, pengurus DKM, hingga organisasi kemasyarakatan—kegiatan ini menjadi ruang refleksi. Di atas sajadah masjid, mereka diajak menyadari bahwa masa depan Bangka Belitung sangat bergantung pada kualitas moral generasi mudanya hari ini.

Pesan yang terus digaungkan sederhana namun mendesak: pembinaan generasi muda tidak bisa ditunda dan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada negara.

Keluarga, masjid, dan masyarakat harus kembali mengambil peran.
Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, PW DMI Bangka Belitung memilih satu sikap: menghidupkan masjid dengan anak muda.
Sebab dari masjid yang hidup oleh generasi muda, harapan tentang masa depan Babel yang bermartabat masih bisa dijaga@Zen Adebi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *