Dr Ahmad Nahwani ST MT Wong Belinyu Usul PLTN Mantung, Sebut Bisa Jadi Kawasan Strategis Nasional
PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Polemik rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbasis thorium di Bangka Belitung kian memanas. Di tengah penolakan terhadap survei tapak di Pulau Gelasa, muncul tawaran mengejutkan dari Bangka Utara. Senin (16/2/2026)
Dr Ahmad Nahwani ST MT, yang akrab disapa Bang Iwan salah satu tokoh masyarakat Belinyu, secara terbuka mempersilakan pemerintah pusat dan perusahaan untuk mengalihkan survei ke wilayah Mantung.
Rencana pembangunan PLTN oleh PT Thorcon Power Indonesia saat ini masih sebatas tahap survei tapak. Namun wacana tersebut sudah memantik pro dan kontra di tengah masyarakat.
Apalagi setelah diskusi publik bertajuk Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta yang digelar di Aston Emidary Bangka Hotel beberapa waktu lalu, perdebatan semakin terbuka.
Dalam forum itu, Ketua Umum Fokus Babel, Ir M Natsir, mengungkapkan kegelisahannya. Menurutnya, mayoritas peserta diskusi belum benar-benar memahami apa itu PLTN thorium, bagaimana proses reaksinya, kandungan kimia dalam ikutan nuklir, hingga regulasi yang mengaturnya.

Caption : Dr Ahmad Nahwani ST MT salah satu tokoh masyarakat Belinyu dan Pengurus Forkoda Bangka Utara saat menyampaikan paparannya di Diskusi Publik beberapa waktu lalu di Aston Emidary Bangka Hotel dan Conference Center Pangkalpinang, Sabtu (7/2/2026)
Ia menilai perdebatan yang terjadi kerap “jauh panggang dari api”.
“Banyak yang belum dibekali data dan fakta. Kita ribut duluan sebelum memahami substansinya,” ujar Natsir, mengutip peribahasa lokal yang menggambarkan kegaduhan sebelum persoalan benar-benar dipahami.
Sorotan juga datang dari tingkat nasional. Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, sempat mempertanyakan rekam jejak Thorcon di Amerika Serikat.
Ia menyinggung bahwa perusahaan tersebut dinilai belum memiliki proyek PLTN komersial yang beroperasi penuh di negara asalnya.
Pernyataan itu menambah daftar panjang keraguan publik terhadap kesiapan teknologi yang ditawarkan.
Namun di tengah gelombang skeptisisme tersebut, suara berbeda justru datang dari Bangka Utara.
Dr Ahmad Nahwani ST MT menyatakan bahwa jika Pulau Gelasa terus menuai penolakan, maka wilayah Mantung dan pulau kecil di Bangka Utara bisa menjadi alternatif lokasi survei.
“Kalau orang Bapeten atau Thorcon pusing ditolak di Pulau Gelasa, bagaimana kalau kami tawarkan silakan survei di Mantung,” kata Iwan saat di wawancara oleh Jejaring Media KBO Babel, Senin (16/2/2026).

Caption: Dr Ahmad Nahwani ST MT (baju coklat) bersama narasumber dan notulen Diskusi Publik beberapa waktu lalu di Aston Emidary Bangka Hotel dan Conference Center Pangkalpinang, Sabtu (72/2026)
Ia bahkan mengingatkan sejarah Mantung sebagai lokasi PLTUG yang pernah menjadi salah satu pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara.
Menurutnya, Mantung bukan wilayah asing dalam konteks infrastruktur energi.
Justru, kata dia, kawasan tersebut memiliki rekam jejak dan kesiapan sosial yang lebih teruji dibandingkan lokasi baru yang masih menimbulkan resistensi.
Dalam pandangannya, polemik tidak boleh berhenti pada ketakutan. Ia menegaskan, jika memang negara melalui regulator seperti BAPETEN memberikan izin dan memastikan standar keselamatan, maka masyarakat perlu diberi ruang untuk mendapatkan penjelasan komprehensif.
“Dulu PLTUG Mantung, sekarang kito usulkan jadi PLTN Mantung?” ujarnya retoris.
Iwan juga membandingkan teknologi thorium yang ditawarkan Thorcon dengan teknologi reaktor dari Norinco Tiongkok kontraktor militer.CNCC yang menurutnya telah lebih dulu beroperasi.
Meski demikian, ia tidak secara eksplisit menolak Thorcon. Ia justru mendorong transparansi dan keterbukaan data agar publik dapat menilai secara objektif.
Menurutnya, apabila PLTN thorium benar-benar dibangun di Mantung dan menjadi proyek pertama di Indonesia, maka kawasan tersebut berpotensi ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).

Caption : Dr Ahmad Nahwani ST MT salah satu tokoh masyarakat Belinyu dan Pengurus Forkoda Bangka Utara
Implikasinya bukan hanya pada sektor energi, tetapi juga percepatan pembangunan wilayah, investasi, hingga status administratif Bangka Utara ke depan.
“Kalau itu terjadi, malu negara ini kalau Bangka Utara tidak jadi kabupaten,” katanya.
Pernyataan tersebut tentu memantik diskursus baru. Jika sebelumnya perdebatan berpusat pada penolakan dan kekhawatiran, kini muncul narasi tandingan: menawarkan diri sebagai tuan rumah proyek energi strategis nasional.
Namun pertanyaannya tetap sama: sejauh mana kesiapan teknologi, regulasi, dan penerimaan sosial masyarakat? PLTN bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ia menyangkut isu keselamatan jangka panjang, limbah radioaktif, mitigasi risiko bencana, hingga keberlanjutan lingkungan.
Di sisi lain, kebutuhan energi nasional terus meningkat. Transisi menuju energi bersih menjadi agenda global. Thorium sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman dibanding uranium konvensional.
Tetapi bagi masyarakat Bangka Belitung, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan kecil, jaminan keselamatan dan keterbukaan informasi menjadi harga mati.
Menutup pernyataannya, Iwan mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada ketakutan semata, namun juga tidak gegabah menerima tanpa kajian mendalam.
“Kito sama-sama mintak izin kek leluhur dan generasi yang akan datang di utara Bangka,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa polemik PLTN di Bangka Belitung bukan hanya soal teknologi dan investasi, melainkan juga soal identitas, sejarah, dan masa depan sebuah wilayah.
Gelasa mungkin menolak, tetapi Mantung kini membuka pintu. Tinggal bagaimana negara menjawab tantangan tersebut dengan data, fakta, dan keberanian politik. (KBO Babel)













Leave a Reply