PJSBABEL.COM

PRO JURNALISMEDIA SIBER BANGKA BELITUNG

Jage Kelekak Kite: FOLU Goes To School dan Upaya Menjaga Kebun Warisan Bangka dari Senyap Kepunahan

Desa Zed, Bangka Barat Pjsbabel.com — Ratusan anak di SDN 09 Mendo Barat pada Sabtu (22/11/2025) menjadi saksi dari upaya pelestarian salah satu lanskap budaya terpenting di Bangka Belitung: kelekak, kebun warisan Melayu Bangka yang hilang diam-diam akibat tambang, sawit, dan perubahan pola hidup masyarakat. Melalui program FOLU Goes To School 2025 yang digelar Yayasan Cakrawala Insan Sentosa (CIS) dalam kerangka kerja sama Indonesia–Norwegia FOLU NIC Tahap 2 & 3, generasi muda diperkenalkan kembali pada warisan ekologis yang kini berada di tepi kepunahan.

Dalam sesi pembelajaran interaktif, anak-anak diperlihatkan flora, fauna, dan struktur agroforestri kelekak kebun yang dulunya menjadi sumber pangan, obat, kayu, hingga identitas keluarga. Banyak dari mereka baru menyadari bahwa pepohonan yang sering mereka lihat ternyata adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar dan kini terancam.

“Aku pernah lihat pohon aren itu di belakang rumah nek!” seru seorang siswa kelas empat, disambut tawa ringan sebelum suasana berubah hening ketika citra udara kelekak yang hilang ditampilkan. Anak-anak mengenali lokasi tersebut beberapa merupakan area tempat mereka bermain.

Bagi mereka, hilangnya kelekak bukan teori. Itu adalah perubahan di halaman rumah sendiri.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kelekak yang telah turun-temurun diwariskan nenek moyang perlahan tergusur. Sebagian hilang karena tambang timah, sebagian berubah fungsi menjadi kebun sawit, dan sebagian dibiarkan mati karena dianggap tidak lagi menguntungkan.

Program FOLU Goes To School menjadi ruang untuk mengembalikan memori yang hampir terhapus. Anak-anak tidak hanya diajak mengamati flora-fauna, tetapi juga diajak memahami fungsi ekologis kelekak dan filosofi budaya “Kelak Kek Ikak” pesan leluhur untuk menanam kembali setiap pohon yang ditebang.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat siswa memegang bibit aren. Mereka memperlakukannya seolah memegang masa depan sendiri.

“Kalau aku tanam, jadi kebun aren punyaku?” tanya seorang siswa.
“Dan kau jadi penjaga kelekak,” jawab fasilitator.

Di titik itulah program ini berubah dari edukasi menjadi proses pewarisan nilai.

Diskusi Publik Ungkap Akar Masalah: Ekologi vs Ekonomi
Kegiatan kemudian berlanjut ke Kelak Andre Zed dengan diskusi para akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan. Berbagai pandangan memperlihatkan akar persoalan di lapangan: kelekak hilang terutama karena dianggap tak memberi keuntungan ekonomi jangka pendek.

Beberapa pandangan penting yang muncul:

Dr. Dian Akbarni, M.Si
“Kelekak tidak akan terjaga jika tidak memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.”

Dr. Rozza Tri Kwatrina (BRIN)
“Kelekak bukan kebun biasa. Ia adalah identitas Melayu Bangka.”

Firdaus Marbun, S.Ant., M.Si (BRIN – Arkeologi)
Menyampaikan data: tahun 1935 terdapat 135 kelekak di Pulau Bangka. Kini hanya tersisa sebagian kecil.

Yuyun Triwidayati, S.Sos., M.PA (Bappeda Babel)
“Hilangnya kelekak berarti hilangnya kearifan masyarakat.”

Nurul Ichsan, S.T., M.Si (Bappeda Babel)
Menunjukkan arsip Belanda bahwa kelekak merupakan sistem tanaman selaras yang mendukung ekonomi keluarga.

Pada pukul 15.00 WIB, semua peserta mulai dari siswa, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat bersama-sama menanam pohon aren. Sejumlah anak menuliskan tekad mereka:

“Aku mau jaga hutan kecil dekat sungai.”
“Aku mau tanam aren di rumah.”
“Aku mau jadi penjaga kelekak.”

Di tengah ketidakpastian tata ruang dan himpitan industri ekstraktif, janji polos itu menjadi titik terang baru.

Kelekak bukan hanya ruang tumbuhnya durian, manggis, cempedak, dan aren. Ia adalah benteng karbon alami, penahan erosi, penyaring air, sekaligus ensiklopedia budaya masyarakat Bangka Belitung. Hilangnya kelekak berarti hilangnya pengetahuan, identitas, dan keberlanjutan ekologis pulau.

Program FOLU Goes To School menunjukkan bahwa pelestarian kelekak bukan sekadar urusan regulasi atau kebijakan, tetapi tentang menyambungkan kembali anak-anak muda dengan tanah, akar, dan sejarah mereka sendiri.

Dan mungkin, dari sekolah kecil di Desa Zed inilah masa depan kelekak mulai ditulis ulang: bukan dengan tangan pemerintah, tetapi oleh tangan-tangan kecil yang hari itu menggenggam bibit aren. (Red/Pjsbabel)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *