PJSBABEL.COM (Mentok, Bangka Barat) — Aroma santan yang menguap dari wajan-wajan kecil di Kampung Tanjung, Minggu sore, seperti membuka pintu kenangan panjang kota pelabuhan tua di ujung barat Bangka. Ratusan warga berdesakan di bazar Ramadhan, membeli kue lapis, bingka, jongkong, kue bangkit, hingga es buah dingin yang melegakan dahaga. Namun di balik keramaian itu, tersimpan cerita lebih besar Mentok sedang menata dirinya sebagai destinasi wisata kuliner “Kota 1.000 Kue,” sebuah identitas budaya yang siap dipromosikan ke panggung nasional bahkan dunia.

Caption : Warga berdesakan membeli takjil buat berbuka puasa
Bazar Ramadhan di Kampung Tanjung menjadi bukti awal bahwa potensi wisata kuliner Mentok bukan sekadar wacana. Dalam hitungan jam, lapak-lapak sederhana diserbu pembeli. Firmansyah (25), pedagang es buah, tersenyum lebar saat dagangannya ludes sebelum pukul lima sore.

Caption : Foto Pedagang kelapa muda sibuk melayani pembeli
“Ramadhan ini berkah. Kalau ramai terus begini, saya ingin buka kedai tetap,” katanya, matanya berbinar.
Cerita Firmansyah adalah potret kecil dari denyut ekonomi rakyat. Bazar Ramadhan bukan hanya tempat membeli takjil, tetapi ruang hidup UMKM, ruang belajar generasi muda dan ruang ingatan keluarga tentang resep turun-temurun yang diwariskan nenek moyang.
Di Mentok, Ramadhan bukan hanya ibadah. Ia adalah musim pulang ke dapur-dapur lama.
Sejak abad ke-18, kota pelabuhan ini menjadi simpul perdagangan timah dan jalur pelayaran internasional. Pedagang Melayu, Tionghoa, Arab, hingga Eropa pernah singgah di pelabuhan Mentok. Mereka membawa rempah, gula, tepung, teknik memasak dan cita rasa yang kemudian berbaur dalam kue-kue tradisional.
Kue bangkit yang ringan seperti doa, kue rintak dengan aroma kelapa panggang, kue srikaya yang manis lembut, hingga bingka labu yang hangat, semua menjadi jejak sejarah yang bisa dimakan.
Pada bulan Ramadhan, kue-kue itu bermunculan seperti bunga musim semi di bazar-bazar kecil. Tradisi kuliner yang lahir dari pelabuhan kolonial kini kembali hidup di tangan ibu rumah tangga, remaja dan pedagang kecil.
Di lapak sebelah Firmansyah, seorang ibu tua menjual kue bangkit dari resep neneknya. Ia bercerita, dulu kue itu dibuat untuk pelaut yang berlayar dari Mentok menuju Selat Malaka.
“Supaya mereka ingat kampung halaman,” katanya pelan.
Di setiap kue, ada sejarah. Di setiap bazar, ada masa depan.
Pemerintah daerah mencatat bahwa bazar Ramadhan di Mentok tersebar di beberapa titik, menampung puluhan hingga ratusan pedagang kecil. Dalam momentum Ramadhan, omzet pedagang bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potensi wisata.
Jika dikelola dengan baik, bazar Ramadhan dapat berkembang menjadi festival kuliner tahunan. Tur wisata bisa mengajak pengunjung menelusuri jejak kuliner Mentok dari Kampung Tanjung ke kota tua pelabuhan, lalu singgah ke masjid-masjid tua, rumah kolonial, hingga pantai bersejarah.

Caption : foto antusias masyarakat dalam menulusuri dan melihat jenis makanan
Bayangkan wisatawan berjalan di bawah lampu-lampu Ramadhan, mencicipi ratusan kue tradisional, mendengar kisah pelaut timah dan merasakan kehangatan masyarakat Mentok. Di sana, wisata bukan hanya hiburan tetapi ia adalah pendidikan budaya.
Konsep wisata kuliner berbasis komunitas telah terbukti di banyak daerah. Kota kecil yang merawat makanan tradisional sering menjadi magnet wisata. Kuliner menjadi bahasa universal yang menghubungkan sejarah, identitas, dan ekonomi.
Mentok memiliki semua unsur itu.
Kota 1.000 Kue:Dari Julukan ke Gerakan Wisata
Julukan “Kota 1.000 Kue” lahir dari tradisi panjang dapur-dapur keluarga Mentok. Namun julukan itu belum sepenuhnya menjadi gerakan wisata yang sistematis.
Padahal, potensi besar sudah ada:
Ratusan resep kue tradisional.
UMKM kuliner aktif.
Sejarah kota pelabuhan kolonial.
Wisata religi dan wisata pantai di sekitar Mentok.
Tradisi Ramadhan yang kuat.
Jika digabungkan dalam satu konsep festival tahunan, Mentok dapat menjadi destinasi wisata kuliner unik di Indonesia.
Festival “1.000 Kue Ramadhan Mentok” bisa menghadirkan:
Parade kue tradisional.
Tur dapur keluarga.
Workshop membuat kue.
Pasar UMKM malam hari.
Cerita sejarah kuliner Mentok.
Kolaborasi dengan komunitas sejarah dan pariwisata.
Wisata kuliner bukan hanya soal makanan. Ia tentang pengalaman, cerita, dan rasa pulang.
Di Kampung Tanjung, seorang gadis remaja membantu ibunya membungkus kue sambil belajar menghitung uang. Ia bermimpi membuka toko kue online.
“Kalau laku terus, saya ingin jualan ke luar Bangka,” katanya.

Caption : Banyak UMKM sangat terbantu Di Bulan Ramadhan ini
Di lapak lain, seorang nelayan menjual kue rintak buatan istrinya untuk menambah biaya sekolah anak. Ada pula ibu rumah tangga yang baru pertama kali berjualan setelah suaminya kehilangan pekerjaan.
Ramadhan memberi mereka kesempatan.
Dalam wajan-wajan kecil, mereka mengaduk santan bukan hanya untuk membuat kue, tetapi untuk menanak harapan.
Wisata kuliner yang berkembang berarti lebih banyak keluarga tersenyum, lebih banyak anak sekolah, lebih banyak resep lama yang selamat dari lupa.
Pembangunan wisata tidak selalu dimulai dari hotel mewah atau jalan raya besar. Kadang ia dimulai dari dapur kecil dan bazar kampung.
Mentok dapat menata wisata kuliner dengan langkah konkret:
Pendataan dan dokumentasi resep kue tradisional.
Pelatihan UMKM kuliner.
Branding resmi “Kota 1.000 Kue.”
Festival Ramadhan tahunan berskala nasional.
Kolaborasi dengan agen wisata dan media nasional.
Integrasi wisata kuliner dengan wisata sejarah dan religi.
Dengan strategi itu, wisata kuliner Mentok dapat menjadi ekonomi berkelanjutan, menjaga budaya sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Ramadhan hanyalah awal.
Jika promosi dilakukan konsisten, wisata kuliner Mentok bisa hidup sepanjang tahun. Kue tradisional dapat menjadi oleh-oleh khas. Tur sejarah kuliner bisa menjadi paket wisata. Festival kue dapat menjadi agenda nasional.
Di Kampung Tanjung, menjelang azan magrib, para pedagang mulai membereskan lapak. Langit Mentok berubah jingga, seperti warna gula merah yang meleleh di wajan.
Firmansyah menatap kerumunan terakhir pembeli.
“Semoga tahun depan lebih ramai lagi,” katanya.
Di balik doa sederhana itu, tersimpan mimpi besar bahwa Mentok dikenal dunia bukan hanya sebagai kota pelabuhan tua, tetapi sebagai Kota 1.000 Kue. Tempat di mana sejarah, budaya, dan ekonomi rakyat bertemu dalam rasa manis yang tak pernah hilang.
Ramadhan di Mentok bukan sekadar waktu berbuka puasa. Ia adalah awal perjalanan panjang menuju masa depan wisata kuliner yang berakar pada tradisi dan tumbuh menjadi harapan.













Leave a Reply