http://PJSBABEL.COM (DESA GUDANG, SIMPANG RIMBA) – Kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir seharusnya menjadi angin segar bagi para petani.
Namun kondisi yang dialami petani sawit di Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, justru berbanding terbalik dengan harapan tersebut. Selasa (2/6/2026).
Di tengah membaiknya harga jual sawit, para petani mengaku kesulitan menjual hasil panennya akibat terbatasnya kuota penerimaan buah di pabrik kelapa sawit (PKS). Akibatnya, buah sawit yang telah dipanen harus menunggu hingga dua hari sebelum dapat dikirim ke pabrik untuk diproses.

Keluhan ini disampaikan sejumlah petani kepada Reporter Jejaring KBO Babel saat melakukan peninjauan langsung ke lapangan.
Para petani mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir antrean pengiriman buah sawit semakin panjang karena kapasitas penerimaan pabrik dinilai tidak sebanding dengan jumlah produksi yang masuk.
“Sekarang harga memang sedang bagus, tetapi percuma kalau buah susah masuk pabrik. Kami harus menunggu kuota, bahkan ada yang sampai dua hari baru bisa kirim,” ujar salah seorang petani.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi petani. Pasalnya, buah sawit yang telah dipanen idealnya segera diangkut dan diolah agar kualitasnya tetap terjaga.
Semakin lama buah menunggu di tempat penampungan, semakin besar potensi penurunan kualitas yang pada akhirnya dapat berdampak pada nilai jual dan pendapatan petani.
Selain itu, antrean kendaraan pengangkut TBS juga semakin panjang. Beberapa petani mengaku harus mengatur ulang jadwal panen karena khawatir buah yang dipanen tidak segera mendapatkan akses masuk ke pabrik.
Menurut mereka, persoalan ini menjadi tanda bahwa perlu adanya evaluasi terhadap sistem penerimaan buah sawit di pabrik, terutama saat produksi petani meningkat dan harga sedang berada pada tren yang menguntungkan.
Masyarakat mempertanyakan mengapa ketika harga sawit sedang mengalami kenaikan yang seharusnya memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi petani, justru kuota penerimaan buah di pabrik menjadi terbatas.
Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat perputaran ekonomi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor perkebunan kelapa sawit.
Para petani berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera turun tangan untuk mencari solusi bersama pihak perusahaan. Mereka menginginkan adanya langkah konkret seperti penambahan kapasitas penerimaan TBS, pengaturan jadwal pengiriman yang lebih efektif, hingga evaluasi sistem kuota agar tidak terjadi penumpukan buah di tingkat petani.
“Kalau harga naik tetapi buah tidak bisa cepat masuk pabrik, petani tetap dirugikan. Kami berharap ada solusi supaya hasil panen bisa langsung terserap,” ungkap petani lainnya.
Masyarakat Desa Gudang juga meminta adanya pengawasan terhadap mekanisme penerimaan buah sawit agar berjalan secara adil, transparan, dan tidak menimbulkan kesenjangan di kalangan petani. Mereka berharap seluruh petani memiliki kesempatan yang sama untuk menjual hasil panennya tanpa harus menghadapi antrean berkepanjangan.
Apabila persoalan ini tidak segera ditangani, para petani khawatir manfaat dari kenaikan harga sawit yang saat ini terjadi tidak dapat dirasakan secara maksimal. Padahal sektor perkebunan sawit selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di wilayah Simpang Rimba dan sekitarnya. (Herwandi/KBO Babel)














Leave a Reply