http://PJSBABEL.COM (JAKARTA) — PT Mitra Stania Prima (MSP) menyiapkan tiga fokus utama program keberlanjutan pada 2026, yakni penguatan ketenagakerjaan melalui program pemagangan, perluasan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), serta kelanjutan rehabilitasi lingkungan.
Tiga agenda ini disiapkan untuk memperkuat manfaat operasi perusahaan bagi masyarakat Bangka Belitung sekaligus menjaga kinerja lingkungan di sekitar wilayah tambang dan fasilitas pengolahan timah.

MSP merupakan perusahaan tambang timah terintegrasi di bawah Arsari Tambang yang beroperasi di Pulau Bangka. Perusahaan ini berdiri pada 1995 dan menjadi bagian dari Arsari Tambang sejak 2011. Berdasarkan profil perusahaan, MSP memiliki konsesi tambang di Mapur, Kabupaten Bangka, seluas 233,5 hektare dengan potensi cadangan 7.551 ton timah (Sn) sesuai RKAB 2024–2026.
Di sisi hilir, perusahaan juga mengoperasikan fasilitas pengolahan dan pemurnian timah dengan dua tungku listrik berkapasitas 3.811 ton pada 2024, dengan volume ekspor logam timah sekitar 3.300 ton.
*Siapkan Program Magang untuk Tenaga Kerja Lokal*
Salah satu program baru MSP pada 2026 adalah Arsari Technical Apprentice Program (ATAP), yaitu program pemagangan kerja yang ditujukan bagi masyarakat Bangka Belitung. Program ini dirancang sebagai wadah bagi tenaga kerja lokal untuk mendapatkan pengalaman kerja nyata sekaligus mengoptimalkan ilmu dan keterampilan yang dimiliki agar lebih siap masuk ke dunia industri.
ATAP diposisikan sebagai instrumen untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja teknis dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia lokal di sekitar wilayah operasional.

Melalui program ini, MSP ingin memperkuat kesiapan tenaga kerja lokal agar lebih terhubung dengan kebutuhan sektor pertambangan dan pengolahan timah. Hingga saat ini, perusahaan belum merinci secara terbuka jumlah peserta, durasi pelatihan, mekanisme rekrutmen, maupun target penyerapan alumni program pada 2026.
*PPM 2026 Menyasar Rumah Layak Huni, Posyandu, Pendidikan, dan Keagamaan*
Di bidang sosial, MSP memusatkan program 2026 melalui skema Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Fokus program ini mencakup pembangunan rumah layak huni bagi warga yang membutuhkan, pembangunan dan penguatan posyandu untuk mendukung pencegahan stunting, serta bantuan bagi lembaga pendidikan dan keagamaan di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Program tersebut menyasar masyarakat di sekitar tambang, khususnya wilayah yang terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan. Implementasinya mulai terlihat pada pertengahan Juni 2026 melalui peletakan batu pertama pembangunan rumah layak huni dan serah terima Balai Posyandu Kasih Ibu di Lingkungan Rambak, Kelurahan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Kegiatan ini dijalankan MSP bersama PT AEGA Prima sebagai bagian dari komitmen sosial perusahaan di wilayah operasional.
Komisaris MSP Harwendro Adityo Dewanto menegaskan program PPM perusahaan tidak hanya menyasar satu sektor, melainkan dirancang lintas bidang untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Bantuan rumah layak huni diarahkan bagi warga yang masuk dalam daftar penerima manfaat, sedangkan program posyandu ditujukan untuk memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting di tingkat lokal.
Manajer PPM Arsari Tambang, Suyudi, menjelaskan setiap program PPM disusun melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait agar tepat sasaran. Menurut dia, penentuan penerima manfaat diselaraskan dengan data sosial pemerintah, termasuk daftar desil bantuan sosial, sehingga bantuan rumah layak huni maupun dukungan sosial lainnya dapat diberikan secara lebih terukur.

Selain perumahan dan kesehatan, MSP juga menyalurkan bantuan bagi Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan lembaga keagamaan lainnya. Ruang lingkup PPM yang dijalankan perusahaan mencakup pendidikan, keagamaan, sosial budaya, kesehatan, ekonomi kreatif, pengentasan kemiskinan, hingga pencegahan stunting.
*Lanjutkan Rehabilitasi Lingkungan dan DAS*
Di bidang lingkungan, MSP memastikan program rehabilitasi dan konservasi tetap menjadi agenda utama pada 2026. Langkah ini melanjutkan program pelestarian lingkungan yang telah dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari reklamasi lahan bekas tambang, rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), penanaman pohon, hingga pengurangan emisi operasional.
Komitmen tersebut menjadi salah satu faktor yang mengantarkan MSP meraih PROPER Emas untuk periode penilaian 2024–2025. Sementara itu, penghargaan Green Leadership PROPER diberikan kepada pimpinan perusahaan sebagai bentuk pengakuan atas kepemimpinan dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta pada 7 April 2026.
Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo, mengatakan pencapaian PROPER Emas menjadi penegasan atas komitmen perusahaan dalam menjaga kualitas lingkungan hidup, terutama di kawasan sekitar operasional perusahaan.
Menurut Aryo, manfaat dari upaya tersebut mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, salah satunya melalui kualitas udara yang semakin baik. Hal itu, kata dia, merupakan bagian dari langkah MSP dalam mendukung target net zero emission melalui pengurangan pencemaran udara maupun air.
“Dampak yang paling terasa bagi masyarakat adalah kualitas udara yang makin bersih. Ini bagian dari komitmen kami menuju net zero, yaitu memastikan operasional perusahaan tidak menimbulkan pencemaran udara dan air. Alhamdulillah, manfaatnya mulai dirasakan oleh warga di sekitar area operasional dan ke depan akan terus kami perkuat,” jelas Aryo.
Tidak berhenti pada capaian tersebut, MSP juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk meningkatkan performa lingkungan. Salah satu agenda strategis yang tengah disiapkan ialah pemanfaatan energi terbarukan secara penuh di fasilitas smelter milik perusahaan.
Aryo mengungkapkan, pihaknya menargetkan penggunaan 100 persen energi terbarukan di smelter pada tahun depan. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari transformasi berkelanjutan perusahaan dalam menekan emisi dan memperbaiki kualitas lingkungan secara menyeluruh.
“Insyaallah, tahun depan kami menargetkan seluruh kebutuhan energi smelter berasal dari renewable energy. Ini menjadi salah satu fokus kami dalam memperkuat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Aryo.
Dalam aspek rehabilitasi lahan dan DAS, MSP sebelumnya telah menjalankan program penanaman pohon secara berkelanjutan di Bangka Belitung. Perusahaan mencatat rehabilitasi DAS seluas 27 hektare di Desa Kerakas, Kabupaten Bangka Tengah, yang ditanami berbagai jenis pohon seperti jambu mete, kayu putih, dan cemara.
Program tersebut menjadi bagian dari target rehabilitasi kawasan yang lebih luas, dengan rencana pengembangan hingga 709 hektare area penghijauan pada masa mendatang.
Selain itu, data perusahaan menunjukkan Arsari Tambang telah merehabilitasi 57 hektare area melalui program reforestasi, dengan tingkat keberhasilan rehabilitasi DAS Kerakas mencapai 80 persen. Upaya pengurangan jejak karbon juga menjadi bagian dari program lingkungan MSP.
Pada 2026, perusahaan mulai menggunakan listrik berbasis Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN untuk menekan emisi tidak langsung atau Scope 2 emissions dari kegiatan operasional, terutama di fasilitas pengolahan dan peleburan timah.
Dalam profil perusahaan, smelter MSP juga disebut telah memanfaatkan energi hijau dan panel surya sebagai bagian dari transformasi operasional yang lebih ramah lingkungan. Raihan PROPER Emas 2024–2025 menempatkan MSP di kelompok perusahaan yang dinilai melampaui standar kepatuhan atau beyond compliance, tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga dalam pengelolaan lingkungan, inovasi sosial, dan konsistensi perusahaan menghubungkan program lingkungan dengan manfaat bagi masyarakat sekitar.
*Strategi Keberlanjutan 2026*
Secara keseluruhan, fokus MSP pada 2026 menunjukkan strategi perusahaan yang tidak hanya bertumpu pada produksi timah, tetapi juga pada pembangunan kapasitas tenaga kerja lokal, peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasi, dan keberlanjutan lingkungan pascatambang.
Melalui ATAP, program PPM, dan rehabilitasi lingkungan, MSP berupaya menempatkan kegiatan pertambangan tidak semata sebagai aktivitas bisnis, melainkan juga sebagai bagian dari pembangunan daerah yang lebih luas di Bangka Belitung. (KBO BABEL)












Leave a Reply