PJSBABEL.COM

PRO JURNALISMEDIA SIBER BANGKA BELITUNG

Harwendro Dorong Indonesia Lepas dari Price Taker, Optimistis Jadi Penentu Harga Timah Global

Buka Puasa Bersama PT MSP, Harwendro Tegaskan Komitmen Berkontribusi untuk Babel PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan PT Mitra Stania Prima (MSP), bagian dari Arsari Tambang, bersama anak-anak yatim piatu dan insan pers di Aston Emidary Bangka Hotel & Conference Center, Rabu (11/3/2026).

Santuni Anak Yatim, Ketua AETI Harwendro Bicara Strategi Indonesia Jadi Penentu Harga Timah Dunia

PJSBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Suasana hangat buka puasa bersama awak media dan anak yatim piatu di salah satu hotel di Pangkalpinang, Rabu (11/3/2026), menjadi momentum bagi Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) sekaligus Komisaris Utama PT Mitra Stania Prima (MSP), Harwendro Adityo Dewanto, untuk berbicara lebih luas mengenai masa depan industri timah nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Harwendro tidak hanya berbagi kepedulian sosial melalui santunan kepada anak yatim, tetapi juga menyampaikan pandangannya terkait dinamika industri pertimahan yang saat ini tengah menjadi sorotan.

Menurutnya, perkembangan isu di sektor timah Bangka Belitung tidak lagi sekadar menjadi konsumsi publik lokal, melainkan telah mendapat perhatian serius dari pasar internasional.

Caption : Pimpinan Umum KBO Babel/Ketua PJS Babel Rikky Fermana foto bersama Ketua AETI Harwendo Adityo Dewanto, Aston Emidary Bangka Hotel Conference Center, Rabu (11/3/2026)

Ia menyebut, setiap informasi yang berkembang di daerah penghasil timah seperti Bangka Belitung dapat memengaruhi persepsi pasar global, termasuk pelaku industri yang memantau pergerakan harga melalui bursa logam dunia.

Setiap isu yang berkembang di daerah ini berdampak luas. Pasar internasional memantau, termasuk London Metal Exchange dan Shanghai. Karena itu, kita harus melihat persoalan ini secara lebih komprehensif,” ujar Harwendro.

Ia juga menanggapi polemik besar yang sempat mencuat di sektor pertimahan nasional dan dikenal publik dengan istilah “271 T”. Dalam pandangannya, tudingan monopoli yang pernah diarahkan kepada perusahaannya tidaklah tepat.

Harwendro menjelaskan bahwa pada masa krisis tersebut pihaknya justru berupaya melakukan konsolidasi dengan sejumlah pemilik smelter di luar negeri guna menjaga agar industri timah nasional tidak berhenti total.

Caption: Harwendo Adityo Dewanto gelar Bukber puasa Ramadhan bersama Pimpred dan wartawan, Aston Emidary Bangka Hotel Conference Center Pangkalpinang, Rabu (11/3/2026)

Langkah tersebut, menurutnya, diambil demi menjaga keberlangsungan rantai industri serta melindungi stabilitas ekonomi daerah yang sangat bergantung pada sektor pertambangan timah.

Ia mengungkapkan bahwa setelah gejolak besar tersebut, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sempat mengalami tekanan signifikan.

Waktu itu ekonomi Babel sempat berada di kisaran 0,77 persen, salah satu yang terendah secara nasional. Tapi setelah aktivitas smelter kembali bergerak, pertumbuhan ekonomi mulai pulih dan sekarang berada di kisaran 5 hingga 6 persen,” jelasnya.

Selain membahas industri timah, Harwendro juga sempat menyinggung perjalanan pribadinya setelah mengikuti kontestasi politik sebagai calon anggota legislatif yang belum menghasilkan kemenangan.

Caption: Ketua AETI Harwendo Adityo Dewanto pose bersama Pimpred & wartawan usai Bukber puasa Ramadhan di Aston Emidary Bangka Hotel & Conference Center Pangkalpinang, Rabu (11/3/2026)

Meski demikian, ia menegaskan tidak pernah meninggalkan Bangka Belitung dan tetap memilih berkontribusi melalui sektor industri yang telah lama digelutinya.

Menurutnya, kepercayaan dari para karyawan dan mitra kerja menjadi motivasi kuat untuk tetap bertahan dan melanjutkan upaya membangun sektor industri yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Saya merasa punya tanggung jawab moral. Ketika situasi sulit, justru kepercayaan dari karyawan yang membuat saya tetap berdiri dan bekerja,” ujarnya.

Caption: Ketua AETI Harwendo Adityo Dewanto saat menyampaikan sambutannya di kegiatan Bukber puasa Ramadhan di Aston Emidary Bangka Hotel & Conference Center Pangkalpinang, Rabu (11/3/2026)

Sebagai Ketua AETI, Harwendro juga mengusung gagasan strategis agar Indonesia tidak selamanya berada pada posisi sebagai penerima harga (price taker) di pasar global.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penentu harga (price maker) timah dunia, mengingat posisi negara ini sebagai salah satu produsen dan eksportir utama komoditas tersebut.

Dibandingkan komoditas mineral lain seperti nikel yang membutuhkan investasi sangat besar, timah dinilai memiliki keunggulan strategis karena rantai industrinya telah lama terbentuk di Indonesia.

Harwendro pun optimistis dalam kurun waktu satu hingga dua tahun mendatang Indonesia berpeluang memperkuat perannya dalam menentukan arah harga timah di pasar global.

Potensi itu ada. Tinggal bagaimana tata kelola dan keberanian mengambil langkah strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi price taker, tetapi mampu menentukan harga di pasar global,” pungkasnya. (M.Zen/KBO Babel)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *