http://PJSBABEL.COM (Jakarta) – Di tengah hamparan salju putih yang menyelimuti pegunungan Pyeongchang, Korea Selatan, Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., berdiri bersama para delegasi dari berbagai negara dalam sebuah forum ekonomi Islam internasional yang bergengsi: World Islamic Economic Forum (WIEF) Roundtable bertema “Glocalising Korea” di kawasan Alpensia Resort, Korea Selatan.
Udara dingin menusuk hingga ke tulang, namun suasana persaudaraan lintas bangsa yang terbangun di forum itu menghadirkan kehangatan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Kehadirannya di forum tersebut bukan sekadar sebagai peserta biasa. Ia hadir sebagai delegasi Indonesia, mewakili suara akademik dan pemikiran ekonomi Islam dari tanah air dalam percakapan global yang mempertemukan ilmuwan, praktisi ekonomi, pengusaha, serta pejabat dari berbagai belahan dunia.
Di forum itu, ilmu pengetahuan menjadi bahasa universal yang melampaui batas negara, bahasa, dan ideologi. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika ia berdiri di depan panggung utama forum bersama seorang perempuan Korea yang mengenakan hanbok, pakaian tradisional khas Korea Selatan.
Momen itu tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan makna diplomasi budaya yang sangat dalam. Kehadiran hanbok di tengah forum ekonomi internasional menunjukkan bagaimana Korea Selatan menghormati para tamu asing dengan menampilkan identitas budayanya secara elegan dan penuh kehangatan.
Dengan setelan formal musim dingin, syal hangat, dan name tag resmi delegasi internasional yang menggantung di dada, Prof. Dr. Muhammad tampil percaya diri di tengah para tokoh dunia.
Momen itu menjadi simbol bahwa ilmuwan Indonesia mampu berdiri sejajar dalam forum-forum global, bukan sebagai penonton pasif, tetapi sebagai bagian dari percakapan strategis tentang masa depan ekonomi Islam dunia.
Semua delegasi hadir atas undangan langsung Gubernur Pyongchang. Sebagai tamu kehormatan, mereka mendapatkan pelayanan istimewa, akomodasi terbaik, serta kesempatan menikmati destinasi wisata unggulan Korea Selatan.
Salah satu pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika para delegasi diajak bermain ski di tengah pegunungan bersalju. Bagi Prof. Dr. Muhammad, pengalaman itu bukan sekadar rekreasi, tetapi bagian dari pengalaman budaya yang memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa membangun citra keramahan melalui penghormatan kepada tamu-tamunya.
Di tengah udara dingin yang membeku, persahabatan lintas bangsa justru terasa hangat. Para peserta dari berbagai negara saling berbagi cerita tentang perjuangan hidup, pengalaman akademik, dan mimpi-mimpi besar tentang masa depan umat manusia. Mereka datang dari budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda, namun dipersatukan oleh ilmu pengetahuan dan semangat membangun dunia yang lebih baik.
Di antara mereka, Prof. Dr. Muhammad menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan budaya adalah dua sayap yang memungkinkan manusia melampaui batas-batas geografis dan ideologis.
Forum seperti World Islamic Economic Forum bukan sekadar ruang diskusi ekonomi global, tetapi juga ruang persaudaraan kemanusiaan yang mempertemukan manusia dalam semangat saling memahami, menghargai, dan membangun masa depan dunia yang lebih damai dan bermartabat.
*Prof. Dr. Muhammad dalam WIEF Roundtable di Korea Selatan (2015)*
VISITING RESEARCH DI UNIVERSITAS KATOLIK LEUVEN BERUSSEL, BELGIA
Tahun 2016 menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan intelektual Prof. Dr. Muhammad. Setelah aktif menghadiri berbagai forum akademik internasional dan membangun jejaring ilmiah lintas negara, ia memperoleh kesempatan berharga sebagai Visiting Research Fellow di Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven), Belgia—salah satu universitas tertua dan paling prestisius di Eropa.
Kampus yang berdiri sejak abad ke-15 itu dikenal sebagai pusat tradisi intelektual dunia Barat yang melahirkan banyak ilmuwan besar serta menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan lintas peradaban.
Namun, perjalanan itu tidak sepenuhnya mudah. Ia menyadari bahwa identitas sebagai Muslim dari negara berkembang di tengah situasi global pasca-terorisme internasional bisa saja memunculkan kehati-hatian tertentu.
Nama “Muhammad bin Muhammad Said” yang tertulis di paspornya sempat membuatnya berpikir panjang tentang bagaimana dunia memandang identitas Muslim di era geopolitik yang sensitif. Tetapi ia memilih tetap percaya bahwa integritas ilmiah, niat baik, dan ketulusan dalam membangun dialog akademik akan menemukan jalannya sendiri.
Kepercayaan itu terbukti. Prof. Nadia Fadil membantu memperjuangkan aplikasinya di hadapan pihak fakultas, biro hubungan internasional, hingga administrasi kampus. Beberapa minggu kemudian, Letter of Acceptance (LoA) resmi diterbitkan oleh Katholieke Universiteit Leuven.
Selembar surat itu menjadi sangat berarti—bukan hanya sebagai dokumen akademik, tetapi juga sebagai simbol bahwa ilmu pengetahuan mampu membuka gerbang dunia bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh memperjuangkannya.
Sebagai Visiting Research Fellow, Prof. Dr. Muhammad tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mengalami proses transformasi intelektual. Ia menyaksikan bagaimana dunia akademik Eropa bekerja dengan disiplin tinggi, menghargai kebebasan berpikir, dan membuka ruang dialog lintas perspektif.
Pengalaman itu memperluas cara pandangnya tentang Islam, ekonomi halal, pluralitas masyarakat modern, serta pentingnya membangun jembatan peradaban melalui ilmu pengetahuan.
Prof. Dr. Muhammad di Perpustakaan Universitas Katolik Leuven 2016
Perjalanan akademik Prof. Muhammad terus berlanjut ke beberapa negara, seperti Bonn University, Germany, atas kerja sama dengan Prof. Cris Suchmacher dari 2017 hingga 2019.
Awal terjadinya COVID-19 menjadi penghalang perjalanan akademiknya yang kala itu telah merencanakan berkunjung ke FEC, Maroko, Al Karawiyin University. Nmaun, ia berhenti hingga 2022. Pada tahun 2023, ia kembali giat melaksanakan misi akademik dengan mempresentasikan hasil penelitiannya di Forum Indonesia Fokus di Chattanooga University, Texas, Houston, USA.
Hijrah ke Ibu Kota: menjadi Aktivis Nasional
Di tengah aktivitas akademik dan perjalanan intelektualnya melintasi berbagai negara, Prof. Dr. Muhammad tidak hanya hadir sebagai dosen dan peneliti, tetapi juga sebagai duta intelektual Indonesia yang membawa wajah Islam moderat, dialogis, dan berkeadaban ke ruang-ruang internasional.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika ia dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai forum Kajian Islam dan Indonesian Diaspora di Den Haag, Belanda, dan Brussels, Belgia, serta Jerman.
Di forum-forum tersebut, ia berdialog bersama diaspora Indonesia—mahasiswa, profesional, akademisi, hingga keluarga Indonesia yang menetap di Eropa—tentang Islam Indonesia, ekonomi syariah, tantangan global, dan pentingnya menjaga identitas kebangsaan di tengah kehidupan multikultural Barat.
Dalam suasana yang hangat namun penuh refleksi, Prof. Dr. Muhammad menyampaikan bahwa Islam Indonesia memiliki modal sosial dan kultural yang sangat kuat untuk menjadi wajah Islam dunia yang damai, toleran, dan mampu berdialog dengan modernitas.
Dari ruang-ruang diaspora itulah ia semakin menyadari bahwa diplomasi bangsa tidak selalu dilakukan melalui jalur formal negara, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan, budaya, dan keteladanan intelektual.Perjalanan itu juga mempertemukannya dengan para pejabat diplomatik Indonesia di Eropa.
Ia menjalin silaturahmi dan dialog strategis bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, serta beberapa Konsul Jenderal Republik Indonesia di kawasan Eropa.
Pertemuan-pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis: posisi Indonesia di tengah perubahan geopolitik global, potensi ekonomi Islam, diplomasi budaya, penguatan diaspora Indonesia, hingga peluang kerja sama internasional berbasis ekonomi halal dan pengembangan SDM unggul Indonesia.
Sekembalinya dari Eropa, Prof. Muhammad hijrah ke Jakarta, tepatnya pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Doktor S3 Perbankan dan Keuangan Syariah UIN Syarif Hidayatullah.
Tradisi akademik yang pernah dia rintis sebelumnya terus berlanjut, selain sebagai Sekretaris Prodi S3 Perbankan Dyariah, juga sebagai visiting researcher di Kleve, Jerman (2017), dan dilanjutkan pada tahun berikutnya (2018) menjadi visiting researcher di University of East London, kampus Docklands.
Jejak internasional Prof. Dr. Muhammad juga, tatkala menjadi bagian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, semakin meluas hingga Australia. Ia pernah menjadi bagian dari Indonesian Scientist Group di University of Melbourne sebagai utusan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai ilmuwan internasional dan memperluas perspektif akademiknya mengenai pendidikan tinggi, riset global, dan perkembangan ekonomi Islam kontemporer.
Dalam kesempatan itu, ia juga berdialog dengan sejumlah ilmuwan terkemuka, termasuk Prof. Abdullah Saeed, salah satu pemikir Islam progresif dan ilmuwan studi Islam ternama di Australia.
Selain itu, Prof. Dr. Muhammad juga melakukan kunjungan akademik dan membangun jejaring intelektual di Flinders University serta The University of Adelaide, Australia Selatan.
Kehadirannya di berbagai kampus tersebut semakin memperkaya pengalaman akademiknya dalam memahami dinamika masyarakat global, pengembangan riset multidisipliner, dan pentingnya kolaborasi internasional dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan.
Baginya, kampus-kampus dunia bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang dialog peradaban yang mempertemukan berbagai perspektif, budaya, dan cara pandang tentang masa depan umat manusia.
*AKTIVIS NASIONAL*
Di tingkat nasional, kiprah akademik Prof. Dr. Muhammad juga sangat luas dan lintas institusi. Selain sebagai Guru Besar Ekonomi Islam, ia aktif mengajar sebagai dosen di Tazkia Institute, salah satu institusi terkemuka dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Kehadirannya di lingkungan akademik Tazkia memperkuat kontribusinya dalam mencetak generasi intelektual Muslim yang memiliki kapasitas ilmiah, integritas moral, dan wawasan global.
Ia juga dipercaya sebagai penguji disertasi di Universitas Gunadarma, serta terlibat aktif dalam berbagai forum pengembangan ekonomi Islam nasional.
Salah satunya adalah sebagai Koordinator Forum Pengembangan Ekonomi Islam yang melibatkan kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi, termasuk Universitas Pancasila dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Muhammad aktif mendorong integrasi antara pengembangan teori ekonomi Islam dengan kebutuhan riil pembangunan nasional, penguatan UMKM, ekonomi digital syariah, dan pengembangan industri halal Indonesia.
Reputasi akademiknya juga menjangkau level internasional. Ia dipercaya sebagai external assessor dan penguji mahasiswa doktoral (Ph.D.) di University of Malaya, Malaysia—salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara. Amanah tersebut menunjukkan pengakuan akademik regional terhadap kapasitas intelektual dan kepakarannya dalam bidang ekonomi Islam dan kajian-kajian strategis kontemporer.
Jejak internasional itu kemudian semakin menemukan bentuk strategis ketika Prof. Dr. Muhammad menjadi Alumni Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (LEMHANNAS RI) tahun 2021.
Pengalaman di Lemhannas memperluas horizon berpikirnya tentang ketahanan nasional, geopolitik global, keamanan kawasan, dan masa depan Indonesia dalam era multipolar.
Di lembaga strategis tersebut, ia dipertemukan dengan tokoh-tokoh penting dari unsur militer, birokrasi, akademisi, dunia usaha, hingga pemimpin daerah yang bersama-sama mendiskusikan arah masa depan Indonesia.
Pasca PPSA Lemhannas, ia dipercaya menjadi bagian dari analis isu-isu strategis kebangsaan dalam Forum Strategic Centre Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas.
Dalam forum tersebut, berbagai persoalan nasional dan internasional dibedah secara komprehensif sebagai kontribusi pemikiran untuk pemerintahan Indonesia, khususnya terkait ketahanan ekonomi nasional, geopolitik global, pembangunan kawasan perbatasan, ekonomi syariah, diplomasi internasional, serta tantangan Indonesia dalam menghadapi pergeseran kekuatan dunia.
Namun, kiprah Prof. Dr. Muhammad tidak berhenti pada ruang-ruang strategis kebangsaan semata. Ia juga aktif dalam penguatan ekonomi rakyat melalui perannya sebagai Penasihat UMKM Naik Kelas Indonesia dan Ketua Dewan Pembina UMKM Naik Kelas DKI Jakarta.
Baginya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya berbicara tentang angka pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat kecil memperoleh akses, peluang, dan keberdayaan ekonomi yang adil dan bermartabat.
Ia juga menjadi Ketua Dewan Pengawas Syariah pada Lembaga Amil Zakat Islamic Relief Indonesia. Melalui ekosistem ekonomi Islam, ia bersama para pengurus Islamic Relief Indonesia menaruh perhatian serius pada bagaimana keuangan sosial Islam, ZISWAF, bisa menjadi instrumen pengentasan kemiskinan ekstrem di beberapa provinsi di Indonesia: Aceh, NTB, Jawa Barat, Palu, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur.
Komitmennya terhadap pembangunan ekonomi nasional juga tercermin melalui amanah sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekonomi Makro, Mikro, dan Syariah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Bidang Pembangunan Wilayah Perbatasan.
Dalam posisi tersebut, ia aktif mendorong penguatan ekonomi daerah-daerah strategis dan perbatasan Indonesia agar tidak hanya menjadi wilayah geografis pinggiran, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memiliki daya tahan sosial dan geopolitik yang kuat.
Dalam bidang diplomasi ekonomi internasional, Prof. Dr. Muhammad juga menerima berbagai delegasi mancanegara, termasuk Dewan Perniagaan Usahawan Malaysia. Pertemuan-pertemuan itu menjadi ruang pertukaran gagasan tentang ekonomi halal, perdagangan syariah, penguatan UMKM, dan peluang kerja sama regional di Asia Tenggara.
Ia tampil sebagai akademisi Indonesia yang mampu menjembatani dunia ilmu pengetahuan dengan praktik ekonomi dan diplomasi internasional.
Di sisi lain, perjalanan intelektualnya juga bersentuhan langsung dengan isu keamanan nasional. Prof. Dr. Muhammad dipercaya sebagai Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di bidang Ekonomi Islam.
Dalam kapasitas tersebut, ia aktif memberikan kontribusi pemikiran mengenai hubungan antara ketimpangan ekonomi, infiltrasi ideologi transnasional, konflik geopolitik global, dan ancaman radikalisme.
Ia meyakini bahwa ekonomi Islam yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kesejahteraan sosial dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun ketahanan nasional dan memperkuat perdamaian Indonesia.
Selain itu, ia juga dipercaya sebagai Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), sebuah pengakuan atas kontribusinya dalam pengembangan pemikiran ekonomi syariah di Indonesia.
Keseluruhan perjalanan ini menunjukkan bahwa Prof. Dr. Muhammad bukan sekadar akademisi yang hidup di ruang kuliah dan jurnal ilmiah. Ia adalah intelektual publik yang bergerak melintasi batas negara, budaya, dan disiplin ilmu.
Dari forum diaspora di Eropa, ruang strategis Lemhannas, kampus-kampus di Australia, ruang akademik Malaysia, meja-meja diplomasi internasional, hingga pemberdayaan ekonomi rakyat di tingkat akar rumput—ia terus membawa satu keyakinan besar: bahwa ilmu pengetahuan harus hadir untuk memperkuat bangsa, membangun dialog antarperadaban, dan menghadirkan perdamaian bagi kemanusiaan.
Di kampus home base-nya FEB S3 UIN Jakarta, ia pertama kali diberi kesempatan untuk menjadi Ketua Program Studi Doktor Perbankan Syariah. Namun, karena merasa sebagai orang baru, ia menyerahkan kepada seniornya dan memilih menjadi Sekretaris Prodi S3 Perbankan Syariah 2016–2018.
Kemudian, tahun 2018 ia diangkat menjadi ketua Prodi S3. Ada banyak event penting dalam masa kepemimpinan yang singkat ini, mulai dari visiting professor dari New York University, Qabul University, dan konferensi internasional yang dihadiri langsung oleh Menteri BAPENNAS, Prof. Bambang Brodjonegoro, kala itu.
Di sisi lain, ia diberi kepercayaan untuk menjadi wakil rektor bidang akademik Un Azzhra Jakarta sejak 2023. Sebelumnya, saya mengabdikan diri sebagai ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, salah satu perguruan tinggi di Jakarta (2020).
Sebagai Guru Besar, kini telah menulis karya ilmiah yang bertebaran dalam berbagai jurnal bereputasi internasional dan book chapter pada Penerbit IGI Internasional Publisher USA. Semester Genap 2026, ia telah mempublikasikan lebih dari 7 artikel internasional bereputasi dan dua book chapter di IGI Global USA.
Pengalaman ini menjadi modal intelektual yang kuat baginya untuk membentuk dan memperkuat ekosistem akademik yang inklusif, unggul dan berekognisi internasional dengan wawasan multidisipliner di IAIN Pontianak.
Apabila Allah sudah menetapkan takdir kita, maka tidak ada yang mustahil. Apa yang dikehendaki-Nya, maka terjadi…terjadilah. (Heru BosBro/KBO Babel)













Leave a Reply