http://PJSBABEL.COM (Jakarta) — Dunia sedang berubah dengan cara yang belum pernah kita saksikan sebelumnya. Bukan lagi soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling lincah bertahan dan paling berani menentukan arah. Di tengah pusaran itulah Indonesia berdiri: di persimpangan antara menjadi penonton sejarah atau menjadi penentu masa depannya sendiri.
Bayangkan sebuah kapal besar di tengah samudra yang gelombangnya semakin tinggi.
Angin bertiup kencang dari segala arah. Di kejauhan, badai bergemuruh. Kapal itu adalah Indonesia. Dan pertanyaannya sederhana: apakah kita akan terus mendayung menghindari karang, atau mulai membangun mercusuar yang menjadi panduan bagi kapal-kapal lain?

Caption : Dr. Rido Hermawan, M.Sc.
Deputi PPNK Lemhannas Ri periode 2024-2026.
Dunia yang Rapuh, Dunia yang Baru.
Para analis menyebut era ini dengan istilah BANI: Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible. Rapuh, cemas, tidak linear, dan sulit dipahami. Tatanan dunia yang dulu dibayangkan sebagai panggung kerja sama kini berubah menjadi arena pertarungan kepentingan.
Amerika Serikat dan Tiongkok saling berhadapan dalam perang teknologi. Rusia dan Ukraina masih berdarah-darah. Timur Tengah
kembali memanas. Tarif digunakan sebagai senjata. Sanksi menjadi alat tekanan. Aliansi dibentuk dan dibubarkan sesuai kepentingan sesaat.
“Kita hidup di dunia yang tidak lagi memiliki polisi global,” ujar seorang diplomat senior yang enggan disebut namanya. “Yang ada adalah kekuatan-kekuatan besar yang saling menguji, dan negara-negara kecil yang harus pintar mencari celah.”
Dalam dunia seperti ini, hukum internasional sering kali kalah oleh kepentingan nasional. Negara yang tidak memiliki kekuatan domestik akan selalu menjadi objek, bukan subjek. Mereka yang hanya mengandalkan diplomasi tanpa fondasi ekonomi, energi, dan teknologi yang kuat akan selalu menjadi pihak yang dikendalikan.
. Indonesia di Pusaran Badai.
Indonesia bukan negara kecil. Penduduknya 270 juta jiwa. Letaknya strategis di jalur pelayaran dunia. Sumber daya alamnya melimpah. Tapi kekuatan itu tidak otomatis menjadi kedaulatan.
Lihat saja ketergantungan kita pada impor BBM. Ketika konflik meletus di Timur Tengah dan Selat Hormuz terganggu, harga minyak melonjak. Subsidi membengkak. Inflasi mengancam daya beli rakyat. Belum lagi soal pangan: gandum dan kedelai sebagian besar didatangkan dari luar. Teknologi inti, dari chip hingga sistem pembayaran, masih bergantung pada asing.
“Jika kita hanya bertahan, biaya yang harus dibayar semakin mahal,” tegas seorang ekonom dari sebuah lembaga riset independen. “Subsidi energi terus naik. Ekspor terganggu tarif. Rupiah tertekan. Peluang untuk naik kelas justru hilang.”
Data berbicara. Sepanjang 2025, Indonesia kehilangan momentum ekspor ke Amerika Serikat akibat kebijakan tarif yang fluktuatif. Sementara itu, volatilitas harga komoditas membuat neraca perdagangan rentan terhadap gejolak eksternal.
Membentuk, Bukan Bertahan.
Di sinilah titik balik itu. Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton yang menunggu badai berlalu. Ia harus menjadi pembentuk lingkungan strategisnya sendiri.
Apa artinya menjadi pembentuk? Artinya memiliki kemampuan mempengaruhi aturan main. Artinya mampu mengubah krisis menjadi peluang. Artinya menjadi penentu arah, bukan sekadar penumpang.
“Kedaulatan sejati adalah kemampuan untuk membentuk, bukan hanya bertahan,” ujar seorang pengamat geopolitik dari sebuah universitas ternama di Jakarta. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menentukan arah sejarahnya sendiri.”
Visinya jelas: Indonesia Emas 2045. Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar kelima dunia. Pemimpin transisi energi hijau di Asia Tenggara. Hub teknologi dan inovasi digital. Penjaga stabilitas dan perdamaian regional.
Lima Pilar Menuju Kedaulatan.
Untuk mewujudkan visi itu, Indonesia
membutuhkan strategi yang terintegrasi. Setidaknya ada lima pilar utama.
Pertama, diplomasi ketahanan yang adaptif. Politik luar negeri bebas aktif harus diubah menjadi bebas aktif yang membentuk. Indonesia tidak perlu memihak blok mana pun, tetapi harus aktif menawarkan solusi. ASEAN diperkuat sebagai kekuatan kolektif. Keanggotaan di BRICS dan proses aksesi OECD dijalankan secara paralel.
“Kita tidak boleh terjebak dalam logika blok,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri. “Kita harus menjadi jembatan, bukan sekadar pengikut.”
Kedua, kedaulatan pangan dan energi. Swasembada pangan harus dibangun berbasis teknologi dan kearifan lokal. Transisi energi
harus realistis. Cadangan strategis di pulau-pulau terdepan menjadi keharusan. Program biodiesel B50 adalah contoh konkret pengurangan ketergantungan pada impor BBM.
Ketiga, hilirisasi dan industrialisasi. Indonesia tidak boleh terus mengekspor bahan mentah. Nikel harus menjadi baterai. Sawit harus menjadi oleokimia. Bauksit harus menjadi aluminium. Pemerintah telah menetapkan 18 proyek hilirisasi prioritas dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun. Realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp300,1 triliun pada Semester I 2026.
Keempat, kemandirian teknologi. Dunia sedang menuju perang teknologi. Indonesia harus membangun ekosistem semikonduktor, pusat data nasional, kecerdasan buatan lokal, dan sistem pembayaran digital yang berdaulat.
Kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi global harus diarahkan pada transfer teknologi dan pengembangan talenta. Targetnya: 15.000 insinyur chip Indonesia.
Kelima, diversifikasi kemitraan global. Jangan bergantung pada satu pasar. Ekspor harus diarahkan ke Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Perjanjian perdagangan diperluas. Diplomasi ekonomi diperkuat.
Peta Jalan Menuju 2045.
Strategi ini bukan proyek jangka pendek. Ia adalah peta jalan menuju 2045. Pada fase pertama (2025–2030), Indonesia mengonsolidasikan fondasi: pangan, energi, dan stabilitas makro. Pada fase kedua (2030–2035), percepatan transformasi melalui hilirisasi dan teknologi. Pada fase ketiga (2035–2040),
ekspansi pengaruh melalui diplomasi dan kemitraan global. Pada fase puncak (2040–2045), Indonesia diharapkan menjadi kekuatan global yang diperhitungkan.
Indikator keberhasilannya jelas: pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, bauran energi terbarukan di atas 30 persen, ekspor produk hilir lebih dari 50 persen, dan daya saing global masuk 20 besar dunia.
Pilihan di Tangan Kita.
Badai geopolitik global bukan sesuatu yang bisa dihindari. Ia adalah realitas yang harus dihadapi. Namun, cara Indonesia menghadapinya menentukan nasib bangsa ini.
Jika hanya bertahan, Indonesia akan terus menjadi objek yang dikendalikan kekuatan lain.
Jika mampu membentuk, Indonesia akan menjadi penentu arah bagi kawasan dan dunia.
“Jangan tunggu dunia berubah. Bentuklah dunia itu,” pesan seorang guru besar hubungan internasional kepada generasinya.
Pilihan itu ada di tangan kita. Membentuk masa depan bukan slogan, melainkan strategi. Dan strategi itu harus dimulai sekarang.
Referensi:
· Munich Security Conference. (2026). Munich Security Report 2026.
· Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Rancangan Teknokratik RPJPN 2025–2045.
· Bank Indonesia. (2026). Laporan Perekonomian Indonesia.
· World Economic Forum. (2026). Global Risks
Report 2026.
· National Intelligence Council. (2024). Global Trends 2045.
· Laporan Kajian Lemhannas RI. (2025). Ketahanan Nasional dalam Dinamika Geopolitik Global.(KBO BABEL)












Leave a Reply